Langsung ke konten utama

Sepi

"Sudah sampai Mas", lapor pak Gojek padaku via pesan. Lalu dia bingung melihatku, ternyata seorang mbak yang memesan makan lengkap di tengah malam.

Ya begitulah hidupku akhir-akhir ini. Sangking lelahnya, sore hari sepulang dari RS aku tidur masih dengan atribut lengkap. Lalu baru terbangun tengah malam karena lapar dan pak Gojek lah yang menjadi andalan selama ini untuk memesan makan. Makan siang dan malam yang dirapel menjadi makan tengah malam.

Aku tahu bahwa manusia itu sulit merasa puas dengan hidupnya. Ada 1 sisi bagaimanapun sempurna hidupnya, seseorang akan tetap merasa ada 1 ruang sepi yang dirindukan untuk diisi. Pada fase ini, aku ingin teman bicara. Bukan hanya bantal dan youtube yang membuatku terhibur lepas dari dunia per-PPDS-an. 

Kalau aku curhat masalah seperti ini kepada kakak rohaniku yang dahulu, ia pasti mengingatkan tentang bagaimana persekutuan pribadi ku dengan Tuhan. Bagaimana ibadahku dengan Tuhan. Saat ini jelas buruk dan aku tak tahu harus membangun hasrat "cinta mula" itu dari mana. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PPDS Anak FK UGM

Puji nama Tuhan Yesus Kristus saya diterima di PPDS Anak FK UGM. Saya tidak menyangka, karena rasanya banyak yang lalai saat ujian penerimaan kemarin. Jadi, saya sudah berjanji untuk menuangkan pengalaman saya disini. Penerimaan PPDS "katanya" si relatif, hampir tidak ada yang tahu bagaimana seseorang bisa diterima atau tidak. Tapi, menurut saya, FK UGM cukup objektif ya, karena berbagai item  yang dinilai. Yang pasti adalah kamu harus punya kelebihan yang kamu akan tonjolkan nanti. 1. PNS/ Tubel/ LPDP bisa menjadi suatu kelebihan, walaupun tidak menentukan untuk diterima ya. 2. PTT, post PTT pusat tentunya juga menjadi bahan pertimbangan bagi tim penguji. Nah inilah saya, sebelumnya saya pernah PTT 2 tahun di Kepulauan Aru, Maluku. Puji Tuhan, hal ini dipertimbangkan. 3. Punya prestasi/ publikasi penelitian. 4. Pernah magang. Kalau IKA, ya pernah magang di PRO. Tapi adik kandung saya yang magang di PRO pernah bilang, kalau ini tidak menjamin juga kamu otomatis diterima...

Hidup adalah...

Baik?

Fase hidup baruku kali ini bernama residensi. Aku tahu residensi itu sulit, dan ternyata memang betul-betul sulit dan melelahkan. (Hati kecilku berkata "kamu sudah memilihnya dek Luh, ingat kamu dahulu sangat memperjuangkannya.) Kata orang, di saat terdesak, muncullah karakter asli seseorang. Aku sedih akhir-akhir ini aku tampak (dan memang aku merasa) tidak baik. Aku tidak menjadi seseorang yang baik seperti dahulu. Galuh yang super sabar dan baik hati entah kemana. Capek sekali dan menjadi baik itu butuh effort. Fatna, temanku, dulu pernah berkata "aku capek jadi orang baik". Dulu aku menertawakannya, tetapi kini kurasa memang menjadi orang baik itu melelahkan.