Langsung ke konten utama
Apa yang orang lain rasakan terhadap saya itu bukan  urusan saya/ bagian saya? Yang penting adalah apakah saya sudah berbuat baik buat orang tersebut. Bagaimana orang tersebut meresponnya, tidak perlu saya pikirkan.

Akhir-akhir ini saya bertemu dan berinteraksi dengan orang sulit. Entah apa saya pernah melukainya, mengecewakannya, saya tidak tahu. Kadang dia galak, cetus dan sering mengkonfrontasi. Biasanya saya tidak akan memikirkannya, tapi karena kami sering bersinggungan, hal ini menguras pikiran saya. 

Saya sedang berusaha menanamkan diri untuk berbuat baik untuk orang lain, apapun respon dan bagaimana orang tersebut. Dunia ini berwarna, maka berwarna warni pula orang di dalamnya. Jadi, menghadapi orang sulit bisa saya pandang sebagai suatu tantangan. Kamu sendiri adalah orang yang sulit dek Galuh. Semua orang "sulit" di masa-masa tertentu. 

Be good and helpful anyway. Be positive that you're surrounded by other kind people. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PPDS Anak FK UGM

Puji nama Tuhan Yesus Kristus saya diterima di PPDS Anak FK UGM. Saya tidak menyangka, karena rasanya banyak yang lalai saat ujian penerimaan kemarin. Jadi, saya sudah berjanji untuk menuangkan pengalaman saya disini. Penerimaan PPDS "katanya" si relatif, hampir tidak ada yang tahu bagaimana seseorang bisa diterima atau tidak. Tapi, menurut saya, FK UGM cukup objektif ya, karena berbagai item  yang dinilai. Yang pasti adalah kamu harus punya kelebihan yang kamu akan tonjolkan nanti. 1. PNS/ Tubel/ LPDP bisa menjadi suatu kelebihan, walaupun tidak menentukan untuk diterima ya. 2. PTT, post PTT pusat tentunya juga menjadi bahan pertimbangan bagi tim penguji. Nah inilah saya, sebelumnya saya pernah PTT 2 tahun di Kepulauan Aru, Maluku. Puji Tuhan, hal ini dipertimbangkan. 3. Punya prestasi/ publikasi penelitian. 4. Pernah magang. Kalau IKA, ya pernah magang di PRO. Tapi adik kandung saya yang magang di PRO pernah bilang, kalau ini tidak menjamin juga kamu otomatis diterima...

Hidup adalah...

Baik?

Fase hidup baruku kali ini bernama residensi. Aku tahu residensi itu sulit, dan ternyata memang betul-betul sulit dan melelahkan. (Hati kecilku berkata "kamu sudah memilihnya dek Luh, ingat kamu dahulu sangat memperjuangkannya.) Kata orang, di saat terdesak, muncullah karakter asli seseorang. Aku sedih akhir-akhir ini aku tampak (dan memang aku merasa) tidak baik. Aku tidak menjadi seseorang yang baik seperti dahulu. Galuh yang super sabar dan baik hati entah kemana. Capek sekali dan menjadi baik itu butuh effort. Fatna, temanku, dulu pernah berkata "aku capek jadi orang baik". Dulu aku menertawakannya, tetapi kini kurasa memang menjadi orang baik itu melelahkan.